JTM 20 kV adalah jaringan distribusi listrik tegangan menengah yang berfungsi menyalurkan energi listrik dari gardu induk menuju gardu distribusi sebelum diturunkan menjadi tegangan rendah (380/220 V) untuk konsumen. Jaringan ini menjadi tulang punggung suplai listrik kawasan industri, perumahan, rumah sakit, hingga fasilitas publik.
Karena membawa energi listrik bertegangan tinggi, pelaksanaan pembangunan JTM 20 kV harus mengikuti standar teknis, keselamatan kerja, dan prosedur pengujian yang ketat.
Tahap awal adalah menentukan rute jaringan yang paling aman dan efisien.
Kegiatan yang dilakukan:
Survey topografi lokasi
Pengukuran jarak antar tiang
Penentuan titik gardu distribusi
Identifikasi crossing (jalan raya, sungai, rel kereta, bangunan)
Analisis clearance terhadap bangunan dan pepohonan
Penentuan tipe konstruksi tiang
Hasilnya berupa gambar rencana jalur (route plan) dan titik koordinat penanaman tiang.
Tujuan utama:
menghindari konflik lahan, meminimalkan gangguan lingkungan, dan memastikan standar jarak aman terpenuhi.
Setelah jalur disetujui, dilanjutkan pekerjaan pondasi tiang.
Meliputi:
Penggalian lubang pondasi
Pemasangan angkur
Pengecoran pondasi (untuk tiang beton/steel pole)
Penanaman tiang
Pemasangan pondasi gardu portal / cantol
Kedalaman pondasi disesuaikan:
Jenis tanah
Tinggi tiang
Beban konduktor
Beban angin
Kesalahan pada tahap ini dapat menyebabkan tiang miring atau roboh saat beban konduktor dipasang.
Tahap utama pembangunan jaringan.
Cross arm
Isolator pin / suspension
Arrester
FCO (Fuse Cut Out)
LBS / ABS (switch pemutus)
Hardware dan aksesoris
Konduktor biasanya menggunakan:
AAAC
ACSR
Covered conductor
Proses stringing meliputi:
Penarikan kabel menggunakan roller
Penyesuaian sag (kendor kabel)
Penjepitan pada isolator
Pengencangan sesuai tabel sag–tension
Sag sangat penting — terlalu kencang kabel bisa putus, terlalu kendur melanggar jarak aman.
Gardu distribusi berfungsi menurunkan tegangan dari 20 kV menjadi 400/230 V.
Komponen utama:
Trafo distribusi
Lightning arrester
FCO
Panel LV
Sistem grounding
Grounding gardu wajib memiliki tahanan rendah (umumnya ≤ 5 Ohm) untuk proteksi petir dan gangguan.
Sebelum dialiri listrik, dilakukan serangkaian pengujian:
Kekuatan tiang
Kekencangan baut
Ketinggian konduktor
Insulation resistance test (megger)
Pengukuran tahanan grounding
Phasing test
Continuity test
Pemeriksaan jarak aman
Setelah lulus uji → dilakukan energize (penyalaan pertama).
Setelah jaringan aktif:
Penggambaran jalur aktual
Nomor tiang
Kapasitas trafo
Titik koordinat
Data proteksi
Dokumen ini penting untuk operasi dan pemeliharaan jaringan di masa depan.